Memahami Kepentingan Beras Dalam
Mendukung Kedaulatan Pangan
Beragam dinamika
yang terjadi di muka bumi memicu banyak hal. Mulai dari ketidakseimbangan
global, perubahan iklim, hingga kebutuhan pangan yang tak seimbang dengan
ketersediaan. Berdasarkan data dari International Rice Research Institute
(IRRI), kebutuhan pangan khususnya beras terus meningkat seiring bertambahnya
jumlah penduduk. Sehingga diperlukan berbagai langkah strategis agar pangan ini
dapat diakses dengan mudah dan memenuhi kebutuhan penghuni bumi.
Di bagian ini,
Indonesia sudah ditakdirkan menjadi salah satu penentu pasokan pangan dalam
skala besar. Dengan posisi di lintasan ekuatorial yang sepanjang tahun disinari
matahari, mendapat hujan yang berlimpah meski terkadang berlebih, Indonesia
tidak hanya menghasilkan pangan, tapi juga berkedaulatan pangan. Dalam artian,
kebutuhan pangan mampu dipenuhi sendiri mulai dari Sabang sampai Merauke.
Terutama yang berkaitan dengan kebutuhan pokok 270 juta penduduk Indonesia,
beras.
Namun, bagaimana
sebenarnya posisi Indonesia sebagai penghasil beras di dunia? Apakah Indonesia
hanya kaya dari sisi luas, namun rendah dari sisi produksi?
Mengacu ke IRRI,
terdapat sejumlah data yang menarik untuk dikaji. Data yang dihasilkan dari
buku “Rice Calender.s” dari IRRI terbitan tahun 2010, masih relevan dengan
kondisi saat ini. Luas tanah tidak bertambah, yang berubah adalah areal
pemanfaatannya. Bisa berkurang atau bertambah.
Table berikut
dapat menunjukkan perbandingan produksi dan luas areal tanam di berbagai benua.
Benua Asia
|
No |
Negara |
Luas lahan (juta ha) |
Produktivitas (ton/ha) |
Produksi GKG (juta
ton) |
|
|
1 |
China |
30 |
6,5 |
131 |
|
|
2 |
India |
36 |
3,3 |
144 |
|
|
3 |
Indonesia |
13 |
5 |
66 |
|
|
4 |
Bangladesh |
11,7 |
4 |
50 |
|
|
5 |
Vietnam |
7,5 |
5 |
40 |
|
|
6 |
Myanmar |
8 |
4 |
33 |
|
|
7 |
Thailand |
10 |
3 |
31 |
|
|
8 |
Filipina |
4 |
3,5 |
16 |
|
|
9 |
Jepang |
1,6 |
6,5 |
10 |
|
|
10 |
Kamboja |
2,7 |
2,9 |
8 |
|
|
11 |
Malaysia |
0,677 |
3,6 |
2,4 |
|
|
12 |
Pakistan |
2,3 |
3 |
7,2 |
|
Amerika Latin
|
No |
Negara |
Luas lahan (juta ha) |
Produktivitas (ton/ha) |
Produksi GKG (juta
ton) |
|
|
1 |
Argentina |
0,215 |
5,7 |
1,24 |
|
|
2 |
Brazil |
2,7 |
4 |
11 |
|
|
3 |
Kolombia |
0,464 |
5 |
2,4 |
|
|
4 |
Peru |
0,388 |
7 |
2,8 |
|
|
5 |
Uruguay |
0,161 |
7 |
1,1 |
|
|
6 |
Meksiko |
0,041 |
5,9 |
0,216 |
|
Afrika
|
No |
Negara |
Luas lahan (juta ha) |
Produktivitas (ton/ha) |
Produksi GKG (juta
ton) |
|
|
1 |
Madagaskar |
1,8 |
2,6 |
4,7 |
|
|
2 |
Mali |
0,471 |
4,8 |
2,3 |
|
|
3 |
Nigeria |
1,7 |
1,8 |
3,2 |
|
|
4 |
Senegal |
0,147 |
4 |
0,620 |
|
|
5 |
Tanzania |
0,720 |
1,5 |
1,1 |
|
Negara Lain
|
No |
Negara |
Luas lahan (juta ha) |
Produktivitas (ton/ha) |
Produksi GKG (juta
ton) |
|
|
1 |
Afghanistan |
0,208 |
3 |
0,672 |
|
|
2 |
Australia |
0,0189 |
10,4 |
0,196 |
|
|
3 |
Mesir |
0,459 |
9,4 |
4,3 |
|
|
4 |
Yunani |
0,034 |
6,7 |
0,229 |
|
|
5 |
Iran |
0,563 |
5,35 |
3 |
|
|
6 |
Italia |
0,247 |
6,12 |
1,5 |
|
|
7 |
Korea Selatan |
0,892 |
6,88 |
6,1 |
|
|
8 |
Spanyol |
0,122 |
7,5 |
0,926 |
|
|
9 |
Sri Langka |
1 |
4 |
4 |
|
|
10 |
Amerika Serikat |
1,4 |
7,5 |
11 |
|
Dari data
tersebut terlihat bahwa provitas Indonesia masih kalah disbanding China dan
Jepang di Kawasan Asia. Bahkan provitas padi Indonesia, tak sampai separuh dari
yang dihasilkan petani di Australia (10,4 ton), dan Mesir (9,4 ton). Negara
maju menghasilkan lebih banyak seperti Amerika Serikat 7,5 ton per ha, Spanyol
juga di angka yang sama, atau Korea Selatan 6,88 ton per ha.
Thailand atau
Vietnam yang berasnya sering Indonesia impor, masing-masing di angka 3 ton per
ha dan 5 ton per ha. Dari sisi provitas, lebih rendah dan sama dengan
Indonesia. Namun demi menjaga agar inflasi terkendali, terkadang dibutuhkan
impor beras. Jika pasokan dan cadangan beras tidak jauh selisihnya dibanding
kebutuhan di Indonesia, maka dapat memicu inflasi. Sebagai penentu inflasi,
jika harga beras tinggi maka dampaknya meluas.
Untuk mengurangi
dan menekan impor beras, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan
mengoptimalkan lahan yang tersedia. Berdasarkan perkiraan populasi penduduk
dari PBB dan FAPRI (Food and
Agricultural Policy Research Institute) estimasi permintaan beras dunia akan
meningkat dari 439 juta ton (2010) menjadi 496 juta ton (2020). Kemudian pada
tahun 2035 menjadi 555 juta ton.
Di Indonesia,
berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen padi pada 2021
mencapai sekitar 10,41 juta hektare, turun sebanyak 245,47 ribu hektare atau
2,30 persen dibandingkan luas panen padi di 2020 yang sebesar 10,66 juta
hektare.
Sementara dari sisi produksi padi pada 2021
yaitu sebesar 54,42 juta ton GKG, mengalami penurunan sebanyak 233,91 ribu ton
atau 0,43 persen dibandingkan produksi padi di 2020 yang sebesar 54,65 juta ton
GKG.
Sedangkan produksi beras pada 2021 untuk
konsumsi pangan penduduk mencapai 31,36 juta ton, mengalami penurunan sebanyak
140,73 ribu ton atau 0,45 persen dibandingkan produksi beras di 2020 yang
sebesar 31,50 juta ton.
Konsumsi beras
penduduk Indonesia berdasarkan data BPS tahun 2019, adalah 28,69 juta ton.
Mengacu ke data
tersebut seiring dengan semakin berkurangnya penambahan luas lahan untuk padi,
maka peningkatan provitas harus lebih difokuskan lagi agar produksi dapat
mencukupi keperluan konsumsi dan stabilitas harga lebih terjamin. Untuk itu,
teknologi baru perlu terus dikembangkan dalam upaya peningkatan provitas padi
dengan luas lahan yang stagnan atau malah semakin berkurang.
Sebuah inovasi
dalam teknologi tanam padi yang dikembangkan dari Provinsi Kalimantan Barat
yang kemudian dinamakan “Hazton” dapat menjadi salah satu solusi mengatasi
kondisi tersebut. Selain hasil yang lebih berlimpah, masa panen juga lebih
singkat sehingga dapat mengoptimalkan lahan yang semakin terbatas.
Bank Indonesia
Perwakilan Kalimantan Barat tertarik dan mendukung teknologi Hazton dengan
membuat program percontohan di beberapa daerah. Selain itu, membuat buku
mengenai teknologi Hazton ini dalam dua edisi dengan melibatkan Perum LKBN
ANTARA Biro Kalbar pada tahun 2015 dan 2017.
Berinovasi untuk Fokus ke Tujuan
Kegalauan Berbuah Inovasi
Lebih dari tiga puluh tahun bukan waktu yang
singkat mengabdi di sektor pertanian khususnya untuk tanaman padi sebagai
seorang birokrat. Namun semakin lama, semakin kuat rasa penasaran dan kegalauan
yang muncul. Permasalahan yang selalu menjadi bahan diskusi, perdebatan, baik
di tingkat lokal dan nasional, adalah lambatnya kenaikan produktivitas petani.
Tidak hanya di Kalbar, kondisi ini juga
terjadi secara nasional, produktivitas petani Indonesia naik lambat kalau tidak
dibilang stagnan. Sementara disisi lain, lahan pertanian luasannya tetap bahkan
cenderung berkurang seiring maraknya pengembangan kawasan perkebunan serta
permukiman. Jumlah penduduk pun terus bertambah yang mengancam ketahanan pangan
nasional. Apalagi mewujudkan kedaulatan pangan beras.
Ada dua pendapat yang mengemuka. Pertama,
mengingat produktivitas cenderung stagnan, maka luas areal tanam harus
ditambah. Namun praktiknya tidak gampang. Selain tekanan dari sektor lain
seperti permukiman dan perkebunan, status kepemilikan
lahan juga menghambat program cetak sawah baru. Pendapat kedua, yakni mendorong
penelitian untuk menghasilkan varietas-varietas baru padi yang jumlah bulir
padinya lebih banyak.
Namun, tetap
saja produksi padi petani tidak naik secara signifikan. Jumlahnya berkisar
antara 6 ton hingga 7 ton. Mengenalkan varietas baru tidaklah gampang dan butuh
waktu cukup panjang. Mulai dari menyiapkan varietas tersebut, menyebarkan dan
mengenalkannya ke petani, serta pertimbangan kualitas rasa beras kalau diolah
menjadi nasi.
Ada dua pilihan
untuk ini. Produktivitas tinggi, lebih tahan hama penyakit, tapi rasanya tidak
enak atau sebaliknya. Belum lagi stagnasi dalam menyiapkan sarana produksi pertanian.
Subsidi untuk pupuk yang terus ditambah ternyata juga tidak mampu meningkatkan
produktivitas petani secara signifikan sehingga dibutuhkan cara untuk
meningkatkan produktivitas petani namun tidak mengubah pola tanam yang mereka
lakukan selama ini.
Salah satu model
penanaman yang menarik adalah pertanian gandum di Jerman. Jerman adalah negara
yang mampu surplus produk pertanian, termasuk gandum. Satu hektare lahan mampu
menghasilkan 12 ton gandum.
Saat berkunjung
ke Jerman sekitar tahun 1999, petani gandum setempat terlihat menggunakan benih
yang jumlahnya lebih banyak. Sistem penanaman menggunakan cara tugal, atau
dibuat lobang di lahan lalu benih ditanam dalam jumlah yang banyak. Gandum
sifatnya tidak seperti padi. Jumlah anakan tidak banyak. Namun buahnya masak
merata, ketinggian tanaman juga sama sehingga memudahkan mekanisasi pertanian.
Di Kalbar, ada
kesamaan petani lokal dengan petani gandum di Jerman. Yakni kebiasaan
menggunakan sistem tugal namun untuk menyemai padi. Benih padi disemai di
lahan-lahan yang kering. Kemudian setelah tumbuh, bibit dicabut dan dipisahkan
kembali menjadi tiga atau empat tanaman.
Kelahiran Hazton
Di Indonesia,
pemerintah waktu itu tengah gencar mengenalkan teknologi “system rice
intensification”, atau SRI. Sistem ini
menggunakan pola satu bibit di satu lubang dengan rentang yang lebar. Satu
bibit itu kemudian menghasilkan anakan, cucu, dan cicit dalam jumlah banyak.
Tapi ada kelemahan dalam sistem tersebut maupun pola tanam sebelumnya. Yakni
setiap benih paling banyak menghasilkan 11 hingga 12 anakan yang produktif.
Meski ada yang jumlahnya di atas itu namun tidak banyak. Bahkan rata-rata
berkisar di angka 7 hingga 8 anakan produktif. Idealnya, anakan yang bagus
jumlahnya 40 buah.
Selain itu,
tingkat kematangan buah dalam satu rumpun, tidak akan sama. Ada yang warna
bulirnya sudah kuning dan mengapur karena kematangan, masih hijau karena
terlalu muda, bahkan banyak kosong atau tidak berisi padi. Kondisi itu membuat
kualitas pascapanen petani menjadi jelek. Berdasarkan hal ini, ada hipotesa
awal, bagaimana kalau setiap lubang langsung ditanami 40 bibit namun indukan,
tidak lagi anakan.
Secara teori, hal itu masih memungkinkan. Kebutuhan benih satu hektare lahan dengan metode tersebut sekitar 100 kilogram. Sekitar tahun 2010, dimulai mencoba menanam berdasarkan hipotesa awal yakni bibit yang ditanam adalah indukan semua. Uji coba dilakukan di halaman Balai Benih Padi, UPT di bawah Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar. Benih ditanam di dalam pot. Namun, setelah satu hingga dua bulan, uji coba tersebut gagal kemungkinan karena tanaman tidak diperlakukan dengan baik dan tepat.
Foto
1 : Hazairin tengah mengambil bibit padi yang menggunakan teknologi hazton di
Halmahera Utara/ Dok Pribadi
Setelah itu,
ujicoba kembali dilakukan dengan melibatkan Anton Komaruddin, salah seorang ASN
di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar. Lokasi uji coba di
halaman belakang rumah agar lebih mudah dilakukan pemantauan terhadap metode
penanaman yang belum memiliki nama itu.
Ada 12 pot atau
ember yang disiapkan sebagai sawah individu dari tiap benih. Masing-masing
ember berisi varietas yang berbeda. Diantaranya hibrida, ciherang, impara,
impari, dan lokal. Tanah untuk benih dari lumpur sawah yang dibawa langsung.
Pengairannya memanfaatkan air yang disalurkan melalui keran. Kondisi sawah
sesungguhnya ingin diterapkan di uji coba ini. Hipotesa awal, kalau induknya
banyak, maka yang akan menghasilkan tanaman produktif juga banyak dan seragam.
Kemudian,
sebanyak 40 benih langsung ditanam di tiap pot dan dipantau setiap hari.
Ternyata, mereka tumbuh serentak. Namun tanaman yang terjepit di sisi dalam,
tidak bisa menghasilkan anakan. Sedangkan yang berada di lingkar luar dari
kumpulan benih yang ditanam, hanya menghasilkan satu anakan. Diluar itu, ada
juga tumbuh anakan, tapi kecil-kecil dan kalah saing.
Setelah memantau
secara intensif selama beberapa hari, ternyata ada 60 anakan hingga 70 anakan
yang keluar atau tumbuh bersamaan. Jika jumlah indukan yang banyak itu tumbuh
tidak serempak, maka uji coba tersebut gagal.
Berdasarkan
hasil uji coba itu, secara singkat dapat dihitung apa yang dapat diperoleh dari
hasil tersebut. Pertama, semua anakan atau minimal 40 anakan tadi, mampu
menghasilkan padi karena sudah menjadi indukan. Secara teori, satu malai dapat
menghasilkan 200 bulir padi artinya ada 8 ribu bulir padi di satu rumpun.
Seribu bulir padi, berat umumnya antara 25 gram hingga 30 gram. Dengan mengacu
berat terendah, maka satu rumpun menghasilkan 200 gram padi. Dalam satu hektare
lahan, dengan jarak tanam antarrumpun 20 x 20 centimeter, akan diperoleh 250
ribu rumpun.
Kedua, dengan
asumsi-asumsi tadi, dalam satu hektare akan berpotensi menghasilkan 50 ton
gabah kering panen. Jumlah yang luar biasa karena tidak ada satupun varietas
yang mampu menghasilkan padi sebanyak itu. Setelah terus memantau perkembangan
dari sawah individu tersebut, akhirnya akan dilakukan pemanenan.
Namun menjelang
panen, bulir padi yang menguning menjadi incaran hama, termasuk tikus. Padi
yang dirawat dan dipantau setiap hari itu, habis dimakan tikus. Rumpun yang
sebelumnya terlihat rimbun, bertumbangan. Namun ada sisi positif dari apa yang
telah dilakukan selama hampir tiga bulan itu. Yakni, untuk meningkatkan produktivitas
petani, jangan memperbanyak anakan tetapi indukan dalam satu rumpun. Tren
tersebut berlaku untuk semua varietas yang ditanam.
Uji coba kembali
dilakukan tepatnya pada Oktober 2012. Kali ini jumlah pot yang disediakan lebih
banyak, 40 buah. Juga mulai ada perlakuan untuk masing-masing pot. Setiap pot
diisi bibit mulai satu buah, lima, 10, 20, 30 dan 40. Untuk menghindari
serangan tikus, di sekeliling areal penempatan pot, diberi plastik. Jaring
dipasang di atas dan sekeliling areal untuk menghindari hama belalang maupun
wereng. Tanggal 13 Januari 2013, tanaman padi dalam pot itu akhirnya dipanen.
Istri Menteri Dalam Negeri, Vita Gamawan Fauzi, yang juga Ketua Umum Tim
Penggerak PKK Pusat, ikut serta.
Dari sekian banyak pot, jumlah yang paling optimal
adalah antara 20 bibit hingga 30 bibit. Namun untuk bibit berjumlah 40 buah,
anakan produktif yang keluar merata tumbuh tidak banyak. Sehingga disimpulkan,
jumlah bibit yang paling baik adalah antara 20 – 25 buah. Dibandingkan dengan
bibit yang jumlahnya satu, lima atau 10, hasilnya jauh lebih baik.
Ada 40 hingga 60 anakan produktif dari 20 –
30 bibit. Setiap malai ada yang menghasilkan 200 bulir,
300 bulir, bervariasi. Pengaruh dari varietas membuat jumlah bulir berbeda
antarmalai. Itu merupakan sifat individu dari masing-masing varietas. Namun
yang terpenting adalah jumlah malai yang produktif. Jadi, jika ada 100 pohon yang ditanam tapi yang
berbuah hanya 10 buah maka jauh lebih baik kalau yang ditanam 40 pohon, tetapi
semuanya berbuah.
Out of the Box
Nama Hazton sebenarnya muncul tanpa sengaja, dan menjadi perpaduan
dari Hazairin – Anton yang sejak awal mencoba mengembangan metode tanam bibit
banyak itu. Kalau kata hasil menggunakan huruf “s” sudah biasa, tapi memakai
huruf “z”, tentu hazilnya luar biasa.
Selepas itu,
percobaan terus dilakukan dalam skala yang lebih luas. Sebanyak seribu pot disiapkan di bagian
belakang Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar
yang terletak di Jalan Ali Anyang Pontianak. Sebanyak 20 benih ditanam di
masing-masing pot. Sebagai pembanding, juga ditanam padi dengan teknologi SRI.
Selain itu, juga diterapkan di lahan sawah mini berukuran 6 meter per segi yang
terdapat di belakang Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi
Kalbar. Sedangkan di tingkat petani, dicoba di areal seluas 0,75 hektare milik
petani di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Metode hazton yang
semula untuk penanaman dalam pot, mulai diterapkan di lahan sawah sesungguhnya.
Ternyata, hasilnya
menunjukkan tren yang sama. Lebih baik dibanding teknologi SRI. Di lahan
persawahan, juga menunjukkan hasil yang berlimpah. Lahan di Sungai Kakap yang
menerapkan teknologi hazton, dari hasil perhitungan ubinan mampu menghasilkan
13 ton gabah kering panen.
Tim Pengendali
Inflasi Daerah Provinsi Kalbar dimana Bank Indonesia juga ikut di dalam tim
tersebut, memberi respon yang positif. Kepala Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Kalbar saat itu, Hilman Tisnawan (terakhir bertugas di BI Jepang)
mendukung pengembangan hazton sebagai uji coba meningkatkan produktivitas
petani padi.
Uji coba
lanjutan dilakukan di Desa Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya, dan di Kota
Singkawang. Uji coba di Sungai Rengas kurang berhasil karena petani yang
seharusnya merawat tanaman tersebut, pulang ke daerah asal. Sedangkan di Kota
Singkawang, melibatkan ibu-ibu PKK. Di Kota Singkawang, mampu menghasilkan 200
– 300 gram gabah kering panen per pot. Atau, kalau dikonversi ke beras, setara
dengan 150 gram per pot.
Foto
2 : Hazairin dan tanaman padi yang belum menggunakan teknologi hazton/Dok
Pribadi
Berdasarkan
hasil itu, dengan perhitungan satu hari kebutuhan satu kilogram beras, maka
dibutuhkan panen padi dari 6 – 10 pot per hari. Sementara perhitungan per
tahun, dibutuhkan 900-an pot dengan pertimbangan satu tahun bisa tiga kali
panen. Penanaman padi dalam pot ini kemudian menjadi program dari Bank
Indonesia Provinsi Kalbar.
Ada berbagai
keuntungan dari penanaman padi dalam pot dengan teknologi Hazton. Pertama, efektif untuk dikembangkan di
daerah yang tidak memiliki lahan persawahan seperti permukiman nelayan,
pertambangan, dan perkebunan serta perkotaan. Kedua, hama pengganggu tanaman dapat dikontrol dengan baik. Ketiga, dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas harga beras.
Spekulan beras tidak akan berani bermain kalau di tiap rumah terdapat seribu
pot berisi tanaman padi. Dampaknya, harga beras dapat ditekan, inflasi pun
diminimalisasi.
Manajemen Pemupukan dan
SOP Hazton
Hampir
setiap panduan pemupukan selalu yang tertulis adalah kebutuhan N pada tanaman
padi dan biasanya yang dimaksud adalah NH4, padahal tanaman akan menyerap N
dalam bentuk nitrat. Sedangkan NH4 dalam tanah sebelum terserap tanaman terjadi
nitrifikasi dari NH4 menjadi nitrit lalu menjadi nitrat, baru diserap tanaman
dalam bentuk nitrat. Nitrifikasi memerlukan waktu sekitar 10 hari sampai 15
hari.
Disinilah
yang membedakan tanaman padi kita dengan petani yang lain, yaitu penggunaan
nitrat (KNO3), disini akan jauh kelihatan bedanya, baik itu vigor tanaman akan
lebih baik maupun jumlah anakan akan lebih banyak. Masil percobaan kami pupuk dasar pada usia
5-7 HST ditambah dengan 40 kg KNO3 atau CPN Pak Tani akan mendapatkan hasil
yang baik.
Biasnya
tanaman padi yang jumlah anakannya banyak dan terlalu lebat, seperti pertanaman
padi dengan metode hazton, akan lebih rentan terhadap serangan hama penyakit. Ini
terjadi terutama jika banyak hujan, kelembaban tinggi, serangan penyakit akan
terjadi, terutama kresek dan blast.
Apabila
terjadi serangan penyakit seperti blast, menggunakan pestisida saja tidak cukup
namun harus mengatur penggunaan pupuk secara tepat sehingga bisa menekan
perkembangan penyakit. Hal ini disebut dengan manajemen pemupukan. Artinya pemupukan diatur secara tepat untuk
mendapatkan hasil yang optimal, seperti bagaimana mendapatkan anakan produktif
yang maksimal, vigor tagus, keluarnya malai yang serempak, pengisian bulir yang
baik dan ketahanan terhadap hama dan penyakit.
1. Anakan
produktif maksimal, akan dicapai kalau pemupukan dasar diaplikasikan pada umur 5-7
HST dengan pupuk dasar lengkap ditambah 40 kg KNO3 per ha. KNO3 berfungsi untuk mendapatkan
anakan produktif dan vigor tanaman yang baik
2. pH
tanah usahakan tidak
terlalu rendah, namun mendekati
pH 7
3. Untuk
menyerempakkan keluarnya malai gunakan
Poston dan atau MKP, diaplikasikan umur 35 dan 45 HST
4. Supaya
pengendalian penyakit, terutama blast
dapat ditambahkan
MKP pada setiap penggunaan fungisida supaya hasil pengendalian penyakit
memuaskan, diaplikasikan
umur 40, 50, 60 dan 70 HST
Prosedur
standar operasional menggunakan teknologi hazton dapat dilihat pada link file
berikut :
Jadwal-SOP
Hazton Intensif.xlsx
Foto 3 : Anton Kamaruddin (kiri)
dan Hazairin (kanan) saat mengikuti tanam perdana padi teknologi hazton di Desa
Akedaga, Halmahera Timur/Dok pribadi
PROSES TAHAPAN TEKNOLOGI HAZTON
I. PENYEMAIAN
l. Benih
a. Rendam dngan agensi hayati (24 Jam)
b. Satu tablet agensi hayati untuk 2 - 5 kilogram benih, kebutuhan satu hektare sekitar 100 kilogram benih
c. Tiriskan dan
peram selama 24 jam - 48 jam
2. Lahan
a. Taburkan pupuk NPK secara merata
b. Tambah dengan
decomposer 100 gram untuk 50 liter
II. PEMBIBITAN
1. Bibit
a. Imunisasi dengan problotik (usia 7 -15 hari)
b. Satu tablet probiotik direndam air 100 cc selama
6 - 12 jam, Lalu campur dcngan 15 liter air/satu
tangki penyemprotan
2. Lahan (dua minggu setelah semai)
a. Sisa panen
seperti jerami, batang padi, yang ada di lahan, dihimpun
dan disebar merata
b. Siapkan
dekomposer, satu sachet
@1OO gram dicampur
dua liter air. Direndam satu malam, besoknya
diencerkan dengan air 100 liter.
Satu hektare butuh 4-5 sachet. Carnpuran
ini disemprot merata di atas lahan.
III.
TRANSPLANTING
I. Bibit dipindah ke lahan saat usia 25 - 30 hari
setelah tanarn
(HST)
2. Bibit dltanam dengan
metode jajar legowo
3. Setiap lubang
diisi 20 - 30 bibit.
IV. PERAWATAN
I. Pupuk kimia
a. Urea:
7 HST dan 25 HST (@50 kilogram per hektare)
b. SP 36: 7 HST (150 kilogram per
hektare sekaligus)
c. KCL: 25 HST (50 kilogram per hektare)
d. Ponska: 7 HST dan 25 HST (50 kilogram
per hektare)
2. Pupuk organik
a. PPC: LO hari sekali
mulai usia 14 HST, sebanyak empat kali
b. Probiotik padi : 12, 25 dan 35 HST
3. Hama
a. Biofungisida : 14 HST
Satu tablet dicampur 15 liter air
b.
Biofungisida : 25 HST
Satu tablet dicampur
15 liter air
c. Tikus
Pasang mulsa
di sekeliling
lahan, terutama saat masa bunting padi usia 45 - 55 HST
V. PERSIAPAN
PANEN
a. Bulir padi mulai terisi : 75 HST
b. Panen:
umumnya 95 HST (dua minggu
lebih cepat dibanding teknologi biasa)
Berbagai Pengalaman Empiris pengguna Hazton di Indonesia
Kalimantan Barat
mendapat program yang cukup luas dari Kementerian Pertanian untuk metode
penanaman hazton. Hal itu tidak terlepas dari dukungan anggota Komisi IV DPR RI
Fraksi PKB dari daerah pemilihan Kalbar Daniel Johan yang menilai hazton
menjadi salah satu solusi mewujudkan kedaulatan pangan beras di Indonesia.
Berikut adalah pengalaman empiris berbagai pihak yang menerapkan hazton di
Kalbar dalam menanam padi.
Sukiman asal Semparuk
Sukiman, seorang
petani asal Semparuk, Kabupaten Sambas, adalah salah seorang petani yang
mencoba hazton di atas lahan pertaniannya. Sukiman mencoba di atas lahan seluas
empat hektare. Namun ia kemudian ragu dan hanya mencoba menyemai padi dengan
metode hazton di atas lahan yang kecil. Ketika hasilnya bagus, ia ingin mencoba
lagi namun terlambat. Di atas lahan seluas seperenam hektare, padi yang
dihasilkan mencapai 2,5 ton. Artinya, kalau ditanam di atas lahan seluas satu
hektare, hasilnya 15 ton.
M Rokib, petani milenial asal Peniraman
M Rokib (26),
adalah sosok yang bertranformasi secara drastis dari semula seorang buruh
pemecah batu sekaligus guru di Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten
Mempawah, menjadi petani. Ia bahkan menjadi yang terbaik kedua secara nasional
klaster binaan Bank Indonesia pada akhir 2016 di bidang ketahanan pangan.
Jejak Rokib
tidak hanya berdampak ke kehidupan pribadinya. Anggota kelompok tani di Desa
Peniraman yang sebelumnya ogah-ogahan menanam padi karena hasilnya hanya cukup
untuk makan, kini berlomba-lomba memanfaatkan lahan terlantar. Lahan yang dulu
ditinggalkan, kini tak ada lagi yang tersia. Semuanya ikut menanam padi. Ayah
satu anak ini tidak memungkiri bahwa perubahan tersebut dipicu oleh hazton.
Pada tahun 2012,
ia mendapat tawaran untuk ikut menjadi peserta Sekolah Lapangan Pengendalian
Hama Terpadu (SLPHT). Matanya terbuka lebar setelah mendapat berbagai
pengetahuan seputar pengendalian hama. Tekadnya pun semakin kuat bahwa bertani
dapat memberikan hasil yang lebih.
Foto
4 : Seorang petani menunjukkan tanamannya yang menggunakan teknologi hazton
Akhir tahun
2013, ia mengikuti kegiatan pertanian di Hotel Dangau, Kabupaten Kubu Raya. Di
situ, salah seorang pemateri adalah Anton Kamaruddin. Anton menawarkan untuk
ikut mencoba teknologi baru dalam menanam. Nama hazton belum ditetapkan pada
masa itu. Hasilnya yang dijanjikan, bisa berkali lipat dibanding cara biasa.
Dengan siap, ia menerima tawaran itu. Terlebih areal yang diajukan untuk
mencoba, luasnya 100 hektare.
Namun tunggu
punya tunggu, tawaran tersebut tak kunjung terealisasi. Sampai pada tahun 2014,
Gapoktan Nekad Maju malah mendapat tawaran untuk mencoba teknologi tanam
hazton. Tawaran bukan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura,
melainkan dari Bank Indonesia Perwakilan Kalbar. Lahan yang mendapat alokasi
untuk uji coba, luasnya 25 hektare. Semuanya di Desa Peniraman.
Semula ia
mengaku berat untuk menerapkan teknologi tanam hazton. Terlebih ia baru
benar-benar penuh mendedikasikan waktunya sebagai petani. Ia menyadari ada
beberapa perubahan dalam pola tanam biasa. Terutama dari penyediaan bibit yang
jauh lebih banyak dibanding pola sebelumnya.
Ia pun
bersungguh-sungguh mengikuti arahan yang diberikan para pendamping. Apa yang
dibacanya dan diperoleh dari pendamping, mulai menunjukkan bukti. Gulma seperti
rumput tidak muncul karena kepadatan dan kerapatan dari bibit yang ditanam.
Ibu-ibu yang sebelumnya harus sering membersihkan rumput, tak lagi seperti dulu
intensitasnya. Selama 1,5 bulan setelah ditanam, tanaman memperlihatkan
pertumbuhan yang bagus.
Namun malang,
selepas itu terjadi kemarau yang cukup panjang. Tanah sawah mengering, tanaman
pun terancam. Padahal, itu adalah musim pertamanya menjadi seorang petani. Bank
Indonesia Perwakilan Kalbar tetap mendukung areal binaan mereka. Mobil tangki
pun didatangkan untuk menyediakan air di lahan tersebut, termasuk milik Rokib.
Tanamannya kembali segar dan terus menunjukkan perubahan-perubahan.
Agustus 2014, ia
melakukan panen perdana. Wakil Menteri Pertanian pada masa itu, Rusman
Heriawan, diundang untuk panen raya. Tamu lain seperti Wakil Gubernur Kalbar
Christiandy Sanjaya dan sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian,
ikut hadir.
Berdasarkan
hasil ubinan, tercatat seberat 11,6 ton. Sedangkan riilnya, atau setelah
dipanen semua, hasilnya 9,5 ton per hectare. Angka ini jauh diatas panen-panen
sebelumnya yang hanya di kisaran 1,5 ton hingga tiga ton per hectare.
Foto 5 : Seorang warga tengah berada di
lahan sawah yang menggunakan teknologi hazton/Dok Pribadi
Gapoktan di Kabupaten Sambas
Gabungan
Kelompok Tani Mekar Bersatu menggelar panen padi pada Rabu (25 Januari
2017). Semula, produktivitas petani di
Kabupaten Sambas rata-rata berkisar 3,5 ton hingga 5 ton saja. Namun sejak
menggunakan teknologi hazton, naik menjadi 6 ton, 7 ton, bahkan ada yang pernah
mencapai 13 ton.
Lokasi yang panen di Desa Tebas Sungai itu mulai tanam perdana padi dengan
teknologi hazton pada November 2016.
Asniah
(58), petani setempat mengaku baru kali ini mulai menggunakan teknologi tanam
hazton. Ia berharap, hasil panennya kali ini akan mencapai dua kali lipat
dibanding biasa. Biasanya, dalam satu borong, ia mendapat 300 kilogram sampai 500
kilogram. Namun tetangganya yang lebih dulu panen, mendapat hasil 1,2 ton. Borong
adalah ukuran luas yang setara dengan 1/6 hektare bagi petani di Kabupaten
Sambas
Dari tiga
lokasi lahan yang dipanen di Desa Tebas Sungai, hasil ubinan menunjukkan masing-masing
angka 12 ton, 8 ton dan 9 ton lebih dengan nilai rata-rata 10,16 ton per
hektare.
M Yatim (54), Ketua Gapoktan
Semangat Maju di Desa Sepinggan, Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas. Ia
bersama kelompok yang dipimpinnya itu sejak setahun terakhir menggarap lahan
sawah sebanyak 250 hektar dengan teknologi budidaya hazton, program dari Kementerian
Pertanian melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi
Kalimantan Barat.
Produktivitas lahannya semula,
sebelum menerapkan teknologi tanam hazton, berkisar antara tiga ton hingga
empat ton. Namun kini, berdasarkan hasil ubinan saat panen terakhir, mencapai
10,7 ton per hectare. Di Kecamatan
Semparuk, ada 1.500 hektare lahan yang mendapat bantuan untuk menerapkan
teknologi tanam hazton.
Foto 6 : Seorang
petani milenial tengah berada di sebuah areal yang menggunakan teknologi hazton
Petani Singkawang
Hasil
yang naik signifikan juga dirasakan anggota kelompok tani di Kota Singkawang.
Pada tahun 2016, Kota Singkawang mendapat alokasi untuk teknologi tanam hazton
seluas 3.000 hektare dengan realisasi 2.670 hektare.
Seperti
yang dihasilkan oleh Kelompok Tani Serayu, Setapuk, Singkawang Utara. Kelompok
tani yang beranggotakan 25 orang ini menggarap 20 hektare sawah di wilayah
tersebut.
Ketua
Kelompok Tani Serayu, Jong Nyuk Khim mengatakan, sebelum menggunakan teknologi
hazton, hasil panen setiap hektarnya hanya berkisar 4 ton.
Namun,
setelah menggunakan teknologi tersebut, ia bersama kelompok tani nya bisa
memproduksi hingga 7,4 ton setiap hektarnya. Di Singkawang Timur, ada Kelompok
Tani Sinar Pagi 2 yang memiliki areal 30 hektare. Salah seorang petaninya,
mampu menghasilkan 8 ton per hectare. Ini jauh diatas angka sebelumnya, yang
berada di kisaran 600 kilogram per borong atau 3,6 ton per hectare.
Di
Kelompok Tani Bujang Janggut, Nyarumkop, Singkawang Timur, hasil ubinan sebelum
menggunakan teknologi tanam hazton berkisar 2,24 ton per hectare. Kini, naik
menjadi 3,72 ton per hectare, itu pun kondisinya terkena blast yang cukup
parah.
Foto 7: Tanaman padi dan malay berisi bulir padi/Dok
Pribadi
Petani
di Kecamatan Anjongan
Samiyo
adalah seorang purnawirawan TNI AD dengan pangkat terakhir Sersan Mayor. Ia
Ketua Kelompok Tani Mekar Tani Ogol, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah,
yang menaungi 32 orang anggota dan lahan 25 hektare. Samiyo termasuk petani
yang menggunakan teknologi tanam hazton secara mandiri sebelum akhirnya
termasuk yang mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian tahun 2016.
Setiap
kali panen sejak mencoba tujuh kali sebelumnya, hasil tanaman padinya selalu
meningkat. Ia memperkirakan pada tahun 2017, dari kisaran enam ton atau 1,1 ton
per borong, bisa naik menjadi 1,8 ton per borong. Ia pun semakin yakin dan tak
ragu dengan hazton.
Berbasis
media
https://radarbanyumas.co.id/petani-pegalongan-terapkan-metode-hazton/
REPUBLIKA.CO.ID, BANJARNEGARA –-
Setelah sukses memperkenalkan metode
Hazton pada petani di wilayah Banyumas, Bank Indonesia Perwakilan
Purwokerto mulai memperkenalkan metode pertanian padi ini pada petani
Banjanegara. Pengenalan metode Hazton, dilakukan dengan melakukan uji coba di
lahan sawah seluas 10 hektare wilayah Keluarahan Argasoka Kecamatan
Banjarnegara.
Wakil Bupati Hadi Supeno,
menyambut baik upaya yang ditempuh oleh BI mengenalkan metode Hazton pada
petani di wilayahnya. "Dalam pengenalan metode ini, seluruh biaya ujicoba
ditanggung BI Purwokerto. Dengan demikian, petani yang lahannya menjadi tempat
ujicoba tidak perlu takut mengalami kerugian. Apalagi sawah yang diujicoba,
statusnya juga disewa BI dengan harga wajar sedang hasil panennya dikembalikan
ke petani," katanya, Kamis (26/5).
Untuk itu Wabup berharap, langkah
BI memperkenalkan metode Hazton pada para petani ini, tidak hanya berhenti pada
musim tanam ini. Namun untuk beberapa kali musim tanam, dan ujicobanya tidak
hanya di wilayah Kelurahan Argasoka. Namun menyebar ke wilayah lain di
Banjarnegara yang memiliki lahan sawah cukup luas.
"Kali ini, program BI hanya
diterapkan untuk lahan sawah seluas 10 hektar di kelurahan Argasoka. Harapan
kita, ujicoba kelak bisa dipraktekkan BI di lahan seluas 70 hektar tanah sawah
milik pemerintah yang ada di tujuh Kelurahan, sehingga dampaknya juga akan
lebih besar," katanya.
Kepala BI Perwakilan Purwokerto
Ramdan Deny Saputra mengatakan dengan menerapkan sistem konvensional selama
ini, petani hanya mampu memperoleh hasil panen sebanyak rata-rata 5 ton per
hektar. Namun dengan metode Hazton, maka hasil produksi padi bisa ditingkatkan
menjadi sekitar 8,2 ton hingga 10 ton per hektar.
Menurut Ramdan, dengan
menggunakan metode Hazton sebenarnya tidak memerlukan perawatan tanaman yang
terlalu berbeda dengan sistem konvensional. Perbedaannya, hanya pada usia tanam
bibit yang mencapai lebih dari 30 hari, serta penanaman bibit per rumpun yang
mencapai 20-30 bibit padi per lubang.
Dia juga menyebutkan, dalam uji
coba sistem Hazton di lahan 10 hektar sawah Desa Argasoka ini, BI menangung
semua biaya usaha tani mulai dari biaya tanam, pengerjaan lahan, bibit,
hingga sewa lahan. Sementara untuk hasil panen, BI juga tidak akan mengambil
keuntungan dari hasil panen tersebut. Semuanya dikembalikan pada petani yang
ikut dalam program uji coba tersebut.
Bisnis.com,
JAKARTA - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah,
kembali melakukan uji coba tanam padi menggunakan metode Hazton dalam rangka
meningkatkan produksi padi. Kegiatan yang dimotori Kantor Perwakilan Bank
Indonesia (BI) Purwokerto itu, ditandai dengan penanaman padi secara simbolis
oleh Bupati Banyumas Achmad Husein dan Kepala BI Purwokerto Ramdan Denny
Prakoso beserta sejumlah pejabat lainnya di area persawahan Desa Pegalongan,
Kecamatan Patikraja, Banyumas, Kamis (19/11/2015).
Saat
ditemui usai tanam padi, Bupati Banyumas Achmad Husein mengatakan bahwa
pihaknya siap menyosialisasikan metode Hazton itu jika produksi padi hasil uji
coba kedua tersebut memuaskan. "Hasil panen kemarin kan bisa mencapai 6-8
ton per hektare. Kalau nanti bisa mencapai 8-10 ton per hektare dan benar,
kemudian biaya produksinya tidak semahal metode lainnya, ya akan kami
sosialisasikan," katanya.
Bahkan,
jika terjadi kekurangan bibit, pihaknya bersama-sama TPID akan berupaya mencari
solusi untuk menyelesaikannya. Kepala BI Purwokerto Ramdan Denny Prakoso
bersyukur karena bisa melakukan uji coba tanam padi dengan metode Hazton untuk
kedua kalinya.
"Kami melihat hasil panen yang pertama,
alhamdulillah cukup berhasil. Kami harapkan ini terus bergulir di tanah seluas
10 hektare," katanya. Ia mengharapkan hasil panen padi yang ditanam
menggunakan metode Hazton bisa dimiliki oleh petani 50%, untuk modal tanam
berikutnya 30%, serta 10% untuk penguatan kelembagaan dan 10% untuk
petugas-petugas lapangan.
"Jadi,
dengan pola seperti itu, kami harapkan pengembangan Hazton kemudian
produktivitas pertanian juga terus berjalan sampai kapanpun juga karena
hasilnya bisa dibuat untuk modal penanaman kembali," katanya. Jika uji
coba kedua tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan, pihaknya berencana
mengembangkan metode Hazton di lahan lainnya dalam rangka meningkatan
kesejahteraan petani.
Denny mengatakan bahwa hasil panen padi yang
menggunakan metode tanam Hazton pada uji coba pertama hanya berkisar 6-8 ton
karena musim kemarau dan adanya serangan tikus. "Kalau tidak ada ancaman
hama tikus, kami ingin produktivitas dalam satu hektare bisa mencapai 8-10
ton," katanya.
Kendati
terserang tikus, dia mengakui bahwa produktivitas padi yang ditanam menggunakan
metode Hazton lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan metode lain.
Menurut dia, tanam padi menggunakan metode Hazton layak menjadi metode
alternatif karena produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan metode
lainnya dalam kondisi yang sama, baik musim maupun faktor serangan hama.
Metode
Hazton diciptakan oleh Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat Hazairin,
terbukti berhasil dikembangkan di sejumlah areal pertanian provinsi itu. Teknik
menanam padi dalam metode Hazton berbeda dengan cara yang biasa digunakan
petani. Petani biasanya menggunakan teknik tanam dari bibit yang ada, kemudian
dipindahkan dan dibagi-bagi lagi sehingga hanya tiga sampai empat tanaman yang
ditanam. Dalam metode Hazton, bibit yang akan ditanam tidak dibagi-bagi dan
langsung ditanam hingga mencapai 20-25 tanaman. Pada metode Hazton, sistem
pencabutan bibit dari tempat pembibitan harus hati-hati dengan mengusahakan
agar akarnya tidak banyak putus.
Foto
8 : Rimbun malay tanaman padi yang menggunakan teknologi hazton/Dok Pribadi
TIMESINDONESIA, JAKARTA – Petani di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten
Bondowoso melaksanakan panen Demplot Padi Organik dengan Metode Hazton dan
SRI.
Acara yang dilaksanakan oleh
Kelompok Tani Karya II dengan bekerjasama dengan Bank Indonesia cabang Jember
dan Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso itu mencapai hasil yang maksimal.
Dari luas demplot yang berjumlah
satu hektar, menghasilkan 6,2 ton gabah kering dengan metode hazton dan 4,2
dengan metode SRI (System Rice Intensification).
Prof. Indah Prihartini, Staff
Ahli Bidang Pertanian Bank Indonesia menjelaskan, metode Hazton dan SRI
merupakan metode yang masih tergolong baru dan masih di uji coba di beberapa
daerah di Indonesia. Teknik menanam padi dalam metode Hazton berbeda dengan
cara yang biasa digunakan petani.
Hal yang paling berbeda dari
Hazton adalah metode penanaman padi ini yang menggunakan 20-30 bibit per lubang
tanam. Sedangkan SRI adalah metode tanam padi hanya menggunakan satu bibit
perlubang tanam.
Dalam sambutannya, Indah
mengakui bahwa untuk varietas padi sintanur, Bondowoso adalah yang terbaik.
Dengan hasil panen yang maksimal ini, diharapkan bisa meningkatkan
kesejahteraan petani Lombok Kulon mengingat harga padi organik yang tinggi.
Dipilihnya Bondowoso menurut
Yuliarto, Manager Fungsi Pelaksana Pengembangan UMKM, KPW Bank Indonesia (BI)
Jember, dikarenakan kawasan Bondowoso yang subur serta ketersediaan air yang
cukup.
"Kawasan Bondowoso ini kan
unik, juga air disini cukup banyak," jelas Yuliarto. Ia juga menambahkan,
selain Bondowoso, pihaknya juga menerapkan uji coba penanaman padi menggunakan
metode Hazton dan SRI di Kabupaten Lumajang dan Banyuwangi.
https://www.antaranews.com/berita/640927/metode-tanam-padi-hazton-binaan-kodim-tobelo-sukses
Petani di Batu
Utara, Kabupaten Labuhan, Provinsi Sumatra Utara, menanam padi menggunakan
teknologi Hazton :
https://www.youtube.com/watch?v=c92IHkCpORI
Petani di Sumenep, Madura yang menghasilkan
13,5 ton GKP :
Petani di Kabupaten Karawang, Jawa Barat,
menghasilkan 2,8 ton GKP diatas lahan seluas 2.800 M2 :
Bhabinkamtibmas di wilayah Polres Nganjuk,
menggunakan metode tanam Hazton ditambah pupuk organik, menghasilkan 2 ton per
1/7 hektare :
Kolaborasi Perpadi di Kalbar
Persatuan
Penggilingan Padi dan Pedagang Beras (Perpadi) Kalimantan Barat mempunyai
program untuk berkolaborasi dengan para pihak dalam meningkatkan provitas
petani yang berujung kepada kesejahteraan.
Visi di Kalbar adalah
terwujudnya usaha penggilingan padi dan perberasan yang
profesional, mandiri, tangguh, efisien, berdayasaing, berkelanjutan,
berkerakyatan dan berkeadilan dalam rangka mewujudkan masyarakat agroindustri dan keseimbangan
perekonomian pedesaan dan perkotaan
Sedangkan untuk misi, ada enam poin yang
ditekankan yakni :
1.
Meningkatkan dan mengembangkan
kerjasama yang harmonis dengan organisasi/asosiasi usaha baik di dalam maupun
luar negeri
Di Kalbar, ada 10.634 penggilingan yang tersebar di 14 kabupaten dan
kota. Kendala yang muncul adalah produktivitas yang rendah yakni 3,13 ton per
hektare diantaranya karena belum optimalnya teknologi yang digunakan.
Kualitas padi yang lebih rendah karena kadar air yang tinggi
berkisar 20 – 30 persen, tidak bernas karena kurang pupuk, pengairan, adanya
organisme pengganggu tanaman, dan sebagainya.
Rice milling unit atau unit penggilingan padi yang sederhana.
Rendemen yang rendah (57-60 persen), dengan persentase beras pecah tinggi yakni
25 – 30 persen.
Untuk itu, dibutuhkan strategi agar kondisi dan hambatan tersebut
tertangani secara terintegarasi yakni melalui konsep system pertanian
korporasi. Sistem ini akan menghasilkan pertanian yang lebih terukur baik dari
sisi kualitas, kontinuitas maupun kuantitas. Sistem yang terukur secara digital
akan memudahkan petani masuk ke pasar yang lebih luas lagi, tidak hanya di
tingkat local.
Di bidang pertanian, dengan meningkatkan produktifitas sawah menjadi
8 – 10 ton gabah kering panen melalui teknologi hazton. Namun membutuhkan
dukungan sarana produksi enam tepat, yakni tepat jumlah, waktu, jenis, mutu,
harga dan cara. Selain itu, mempersiapkan infrastruktur seperti alat mesin
pertanian, penataan air, lahan, jalan usaha tani dan produksi.
Sedangkan untuk diluar areal pertanaman, agar kualitas padi lebih
baik, maka dibutuhkan perbaikan di penggilingan padi, system pengeringan yang
sederhana dan modern, menghasilkan beras berkualitas dan berstandar ekspor.
Salah satu yang didorong adalah adanya pembiayaan agar memenuhi
standar penanaman dan pengelolaan yang diharapkan.
Misalnya jaminan alsintan dan saprodi agar petani dapat menanam
secara tepat. Begitujuga perbaikan penggilingan padi. Untuk mendukung agar enam
tepat, dengan melibatkan stake holder lain seperti perbankan (pembiayaan),
produsen benih, pupuk dan pestisida (saprodi), serta BPTP atau perguruan tinggi
(teknologi)
Dengan asumsi ada 1.000 unit RMU yang direvitalisasi, maka lahan sawah
yang dibina seluas 100 ribu-200 ribu hektare. Harapannya, produksi GKP di
Kalbar naik 800.000-1.000.000 ton, jika dikonversi menjadi GKG menjadi 680.000
– 850.000 ton /musim tanam, atau menjadi beras hasilnya 421.600 – 527.000 ton
beras per musim, kebutuhan beras 528.070 ton/tahun.
Pilot project yang dilaksanakan di Desa Chaongk dan Bilayuk di
Kabupaten Landak dengan luas 19 hektare. Dari 3 – 3,5 ton per hektare, menjadi
8 – 8,5 ton per hektare.
Penutup
Menanam padi
menggunakan teknologi hazton dapat menjadi salah satu solusi dalam mewujudkan
kedaulatan beras di Indonesia. Bahkan jika memungkinkan, Indonesia dapat
menghasilkan beras yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan di negara
dunia ketiga yang mengalami kekurangan. Dari sisi kepentingan politik
internasional, akan semakin mengangkat
nama Indonesia di kancah percaturan global sebagai negara ramah pangan bagi
negara dunia ketiga yang membutuhkan.
Produk turunan
dari padi juga dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan lain diluar
sektor pangan. Ke depan, dengan berbagai tantangan di tingkat global yang
semakin kompleks, ditambah ancaman perubahan iklim yang nyata, inovasi yang
menghasilkan lompatan jauh perlu menjadi perhatian semua pihak. Di sektor
tanaman padi, teknologi hazton dapat menjadi salah satunya.
Foto 9 : Hazairin menunjukkan tanaman padi yang
menggunakan teknologi hazton di Peniraman, Kalbar/Dok Pribadi
You're in the right place! Just drop us your cv. How can we help?